<< Emperan Kedai ][ Imaji Delivery ][ Kari Imaji ][ Kari Cover ][ Imaji Tafsir ][ Seratan Abdi ][ Pepesan Warta ][ Lalapan & Cemilan ][ Secangkir Madu ][ nge-Liricks ][ Sajak Retak ] [Selilit] [ Dar-G Multiply >>
Kedai Imaji Menghaturkan: Selamat Memasuki Bulan Agung Sy'ban dan Ramdahan..

Wednesday, October 3, 2007

Islam dan Spirit Modernisme


Islam dan Spirit Modernisme

" Ciptakan kemudahan, Jangan bikin susah.."
Sabda Bapak Pencerahan, Kanjeng Nabi Mohammad SAW.

Ada sebuah tanya lama yang barangkali masih canggung terjawab, kenapa orang barat maju, sementara umat Islam terbelakang?, terus sebenarnya bagaimana Islam dalam menghadapi modernitas? Apakah Islam memiliki spirit peradaban? hati-hati, jika jawabannya hendak dikail dari nalar golongan muslim yang kolot, karena bisa jadi yang mematuk adalah sebuah keyakinan; "modernitas itu bid'ah, ingkar sunnah"; Gambar, foto, patung akan datang menteror untuk meminta nyawa!, Musik itu terkutuk!, Perempuan dilarang nyetir!, dan kalau keluar kudu berwajah datar terbalut cadar! Demokrasi adalah sistem yang najis, karena dari logat bahasa kaum yang enggan disunat?, sampai nasib keberadaan Bank-pun bisa kena semprot tahkim; "Hukum Bank Haram Bung!". Padahal jikalau sebentar kita bayangkan, andai saja di zaman globalisasi sekarang tanpa keberadaan Bank? pasti kita akan mudah untuk mengilustrasikan keadaan dunia yang merepotkan dan pemandangan yang amat jenaka disana.

Nah, semisal fatwa-fatwa diataslah, yang bisa menjadi fitnah atas kesempurnaan ajaran agama Islam. Memang ditangan panganut yang bodoh lagi "munafiq", agama bisa saja tergencet, tersungkur, kalah dikebiri naluri peradaban. Sehingga nalar yang menampik realitas tersebut bisa saja langsung beringsut sambil bersungut-sungut mengumpat; "Agama memang candu!, Agama bikin tidak Maju!". Kemudian ia menduga; pasti ada yang salah dalam agama!, lalu aneka pisau analisis musti diimpor, dengan itu dada agama perlu dibedah-bedah dahulu, perlu ada dekontruksi dan rekontruksi pada kerangka agama, sebagai syarat agar agama bisa bersanding dengan modernitas. Namun yang terjadi justru sebaliknya; agama malah kehilangan identitas!

Begitulah pemahaman agama ketika diraba-raba, saat disandarkan pada sebatas akal-akalan; baik nalar puritan a'rabi yang dangkal, atau nalar liberal yang kelewat brutal. Padahal teks-teks ajaran agama selalu linier, dinamis, ramah dengan fitrah sejarah kemajuan peradaban lahir batin manusia. Cuman, hanya saja, tidak semua bisa mengerti "baik-baik" akan kesahihan arti, maksud, hikmah dan rahasia dibalik teks itu, kecuali para ulama' -pewaris nabi- yang diberkati ketajaman indera ruhani dalam menangkap dan mencium keharuman makna-makna yang muncul dari setiap huruf, kalimat dan ayat-ayat suci. "Qul, hal yastawi al-A'ma wal Bashir…?". Maka bukan tanpa alasan, jika al-Qur'an menyarankan untuk bertanya pada ahli dzikir, atas segala hal yang tidak kita ketahui. "Fas'alu ahla al-Dzikri, inkuntum la ta'lamun". Karena dari Sang Ahli, akan ditemukan jawab yang sederhana, tidak berbelit, mudah diingat, tidak asal comot, karena dengan prosesi istinbat yang jernih, tepat dan akurat.

Termasuk tentang bagaimana agama menghadapi peradaban zaman modern? Menurut salah seorang Sufi, yang sekaligus ilmuwan agung Mesir, Syeikh Mukhtar Ali Muhammad Ra, bahwasanya Rosulullah sebenarnya sudah jauh-jauh memberikan restu berikut spirit modernitas kepada ummat Islam dibalik sabdanya;
يسروا ولا تعسروا بشروا ولاتنفروا
"Mudahkanlah jangan dibikin susah…, buatlah kebahagiaan jangan lahirkan kecemasan…".

Karena Allah Swt telah memberikan jawami'ul kalim kepada Rasulullah, sehingga lafadz "Yassiru.." "Mudahkanlah.." dari Nabi memiliki arti yang melimpah penuh hikmah. Jadi, al-Taisir disitu secara umum memang bisa dipahami sebagai perintah untuk mempermudah penyampaian dakwah atau pemberian taklif agama, yang disesuaikan dengan kondisi tingkat nalar ummat, agar mereka bisa mencerna dan mengikuti ajaran-ajaran agama dengan baik. Seperti halnya ikrar para nabi; "Kami jajaran para nabi telah diperintah untuk mengkhitabi manusia sesuai kadar nalar mereka.".

Akan tetapi perintah Rasulullah dalam sabdanya "Yassiru…" tersebut; juga mengandung makna, pesan selanjutnya yang jauh lebih hidup dan progersif dalam bidang hadlari, sesuai dengan tuntutan nafas perkembangan zaman. Yaitu; "Ciptakanlah kemudahan-kemudahan", "Risetlah dan temukanlah perangka-perangkat kemudahan..", "Majulah..", "Berevolusilah.." "Buatlah makin mudah sistem kehidupan manusia..".."Tingkatkanlah produktifitas dan taraf hidup..", "renovasilah jalan hingga memudahkan jalur tranportasi..", "Dirikanlah…", "Berkaryalah…" "Perbaharuilah..." "Inovatiflah..." "Kreatiflah.." "Dinamislah.." dan seterusnya.

Sungguh, dengan penafsiran yang sederhana namun luar biasa, hadist diatas benar-benar bisa menjadi bagian dari ayat-ayat modernitas, yang merangsang kesadaran umat muslim pada khususnya agar bisa terus maju, berkembang dalam memenuhi, menciptakan perangkat penunjang kemudahan hidup, demi menuju kehidupan yang lebih layak, tidak susah lagi mensusahkan. Sehingga jauh kedepan diharapkan, ummat islam bisa kembali bangkit, turut berperan aktif dalam menciptakan kemajuan peradaban manusia.

Dan bukan sebaliknya, dengan memilin serat-serat pengkultusan atas kejayaan sejarah masa lampau sebagai sumbu, lalu dengki dan dendam diledakkan dimana-mana. Karena Rasulullah juga telah mengintruksikan sejumlah larangan "Wala tu'assiru…wala tunaffiru…", "Jangan bikin susah.. dan jangan bikin terror serta rasa takut..". Dan Allah telah berfirman; "Apapun yang telah diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah…Dan apapun yang telah dilarang, maka tinggalkanlah". Maka dengan demikian, sudah tidak selayaknya bagi ummat islam yang merasa patuh pada sabda Nabi, untuk tetep getol menjadikan agama sebagai ajaran yang menyeramkan, ruwet, ribet, menjadi pembeban ummat, atau menjadikannya begitu primitif, hingga menghambat kemajuan peradaban ummat manusia.

Namun sudah barang tentu sebuah disiplin ilmu harus terlebih dahulu dikuasai dengan baik dan benar, karena sebuah pencapaian akan sesungguhnya peradaban tidak akan terwujud tanpa landasan keilmuan, Rasul bersabda:“Man arada al-Dunya fa alaihi bil Ilmi, waman arada al-Akhirata fa ‘alaihi bil ilmi, waman aradahuma fa ‘alaihi bil Ilmi”. Lalu dengan modal apa manusia bisa menguasai itu semua? Tentu saja dengan perangkat alat ma'rifat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada setiap insan, Nabi bersabda; "Sesungguhnya setiap manusia yang terlahir telah dibekali dengan dua mata di kepala untuk memahami perkara-perkara dunia, dan dua mata di dada untuk memahami hal ihwal akhiratnya".

Oleh karena itu, ketajaman inderawi dan akal ummat musti benar-benar difungsikan secara baik dan maksimal, guna mencari, menemukan dan menciptakan produk budaya baru yang mutakhir yang menjanjikan kemajuan perdaban. Begitu juga kebeningan hati dan jiwa ummat juga musti dipelihara, agar segala produk budaya dan perdaban yang tercipta nantinya begitu humanistik, tidak mengancam ketentraman dan kedamaian lahir batin manusia.

Karena sejatinya nilai modernitas adalah pada segala produk budaya, peradaban manusia yang bikin hidup lebih baik, nyaman, tenang, tentram, mudah dan indah, bukan produk yang malah membikin susah atau melahirkan rasa resah. Sekali lagi, sudah semestinya kita tidak perlu takut dan alergi untuk belajar, menggali rahasia-rahasia yang masih tersimpan di alam, dari siapapun, dimanapun, kapanpun; "Ciptakan kemudahan, Jangan bikin susah., buatlah kebahagiaan dan kedamaian, jangan lahirkan kecemasan..." , "Yuridullahu bikumul yusra wala yuridu bikumul 'usra". Dan sebaik-sebaik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama, tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah, tangan pencipta lebih mulia dari tangan pengguna, "…fastabiqul Khairaat ",.." ..Wafi dzalika fal yatanafasil Mutanafisun..", Selamat Datang Muslim Modernis!, Selamat datang Abad Pencerahan! (Catatan: Mohasoda/07)

. "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi segenap ahli hikmah (Ulil al-Bab), yaitu orang-orang yangberdzikir Allah saat berdiri, ketika duduk dan ketika dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang langit dan bumi,..
"Oh Tuhan kami, Tiadalah kau cipta ini semua dengan sia-sia"....
Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka".

(QS Ali-Imran,190-191)

>>Kedai Imaji, "Sebab Hidup, Bukan Makna yang Terpejam"

No comments: