<< Emperan Kedai ][ Imaji Delivery ][ Kari Imaji ][ Kari Cover ][ Imaji Tafsir ][ Seratan Abdi ][ Pepesan Warta ][ Lalapan & Cemilan ][ Secangkir Madu ][ nge-Liricks ][ Sajak Retak ] [Selilit] [ Dar-G Multiply >>
Kedai Imaji Menghaturkan: Selamat Memasuki Bulan Agung Sy'ban dan Ramdahan..

Wednesday, April 11, 2007

Sabda Pandita Alam


Teringat, ribuan tahun yang lalu, sebuah perahu menjadi lengkap dengan kotoran manusia yang melimpah ruah. Ketika Nuh merakitnya diatas bukit. Berduyun-duyun, selain merasa lega, ternyata kaumnya begitu terhibur, saat "ampas" mereka bisa ramai-ramai di jlentrehkan pada sekujur tubuh perahu itu. Untuk menimpuk sesuatu yang di anggap tak lumrah. Lucu! "Gila kali, membuat perahu di puncak bukit!"
Mendapatkan hal tersebut. Nuh, kembali lewat mukjizat nyata yang diluar pagar praduga nalar, sebuah identitas mampu berontak secara radikal. Dari tinja si kotor yang wajib di buang, menjadi yang ajaib, mujarab, eman sekali rasanya jika di biarkan meninggalkan bekas sisa lamat-lamat. Tak elak, perahupun cepat-cepat mengkilap, tersapu bersih segala bentuk kotoran, berikut sejumlah pemiliknya yang enggan ikut berlayar. Terlumat badai topan terganas sepanjang sejarah, larut dalam gejolak samudra yang tak lagi terbingkai oleh pantai.

Dari kisah klasik tentang pergulatan hidup manusia tersebut Nuh terbukti menang, Alam semesta menjadi lattar, setting kisah yang takterbantahkan. Juga berarti ada banyak selainnya yang pantas tidak beruntung. Tapi pada kenyataanya bumi bandel saja. Sejarah ngeloyor mengayuh acuh. Beberapa entah lebih, manusia sebagai khalifah bumi patah tumbuh hilang dan hilang lagi. Tidak dibiarkan setiap lakon benar-benar menjadi dan merasakan endingnya.

Sampai saat yang begitu jauh, katanya zaman telah modern. James Cameron juga merakit sebuah kapal. Sebuah perahu modern yang maha besar nan anggun. Lengkap dengan mewahnya kabin, ruang makan luks dengan segala perabotan makan peraknya. Anehnya, proyek itu sangat lumrah, walaupun kapal tersebut dibuat di dalam ruangan yang bukan atau akan menjadi samudra. Seluruh pekerja tahu, terlebih James Cameron sang sutradara film Titanic itu. Sebab, toh hanya sekedar sebuah kapal replica yang seharga jutaan sampan beneran di pantai utara. Ia melakukan, untuk mengingatkan pada semacam kenyataan, yang telah menjawab, menenggelamkan gaung si Cal Hockley, "This ship unsinkable, even God himself cannot sink"

Persis dengan gaung si Kan'an, meledak dari rasa percaya diri terhadap hasil jangkauan nalar. Menolak yang aneh, yang diluar pagar praduga tak benar. Bedanya? Putera nabi Nuh tidak yakin, rubuh karena memilih diluar Kapal. Hockley sebaliknya.

Kalau demikan, di mana manusia hidup agaknya terdapat factor yang sering usil, mengacaukan sejumlah perhitungan. Kalau bukan, berarti memang sebuah rancangan manusia yang paling sempurna adalah perhitungan-perhitungan yang selalu sanggup menerima kejutan, selalu tak menjangkau.
Apalagi di Indonesia, tidak asing di telinga masyarakat jawa barat, namun di dalam sebuah legenda. Ada si tumang, anjing itu sebenaranya wajar jika disembelih untuk disantap dagingnya. Namun menjadi ada yang terperanjat, diluar dugaan! Tumang adalah anjing jadi-jadian karena kutukan, suami dayang sumbi, bapak dari bocah yang menyembelih. Di pungkasan fragmen, sangkuriang putra si Tumang juga terkutuk membeku, lalu muncul mithos gunung tangkuban perahu.

Kalau ini memang hanya sebuah kekuatan legenda fiksi, jelas tidak sama dengan kisah perahu dan kedahsyatan banjir Nuh. Yang Al-qur'an meyakinkannya, Perjanjian Lama mengungkap, agaknya sejarah Sumeria dan Assiria-Babilonia juga merekam yang serupa. Dan sangkuriang tidak setenar Rose, juga terlalu rumit untuk dibandingkan dengan kecakapan Leonardo Dicaprio. Tetapi kesemua kisah bisa serentak menjelaskan akan mimik, polah kegundahan manusia. Ketika terbentur dimensi kenyataan, antar sesama, pada alam, sampai Tuhan serta kutukan.

Dan legenda sangkuriang di Indonesia hanya sebatas cerita renyah bagi anak-anak TK sampai SD. Agar, merekapun diharapkan bisa terdidik sejak dini, terdidik untuk berpolah yang baik, juga terdidik untuk tidak yakin secara baik!.

Akibatnya juga terperanjat, karena di Indonesia lagi, ada kisah yang masih hangat, tidak asing bagi seluruh masyarakat timur dan barat. Barusan, sebelum tahun baru ada pemandangan ratusan ribu manusia ramai berkumpul. Bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak memenuhi sepanjang jalan. Baju mereka sangat beragam, bahkan terlihat tidak sedikit yang masih memakai sepatu kesukaannya. Mereka serempak diam, berjejer dirapikan, diselimuti plastic, dihitung, di tangisi mereka diam. Di copot sepatunya, dicarikan potongan kakinya, diangkut tetap diam seribu indera. Mereka berdesak-desakan dengan perabot rumah tangga, tersangkut parit, akrab dengan bangkai reruntuhan rumah mereka, terbalut Lumpur.

Pemandangan tersebut ada di Aceh, ketika Sang Tsunami paling liar sepanjang sejarah abad modern muncul di perairan samudra hindia. Menjadi sebuah kenyataan, Aceh menangis, Indonesia berduka, dunia berbela sungkawa. Seperti biasa, yang tersisa takut, terkejut, histeris, repot, berdo'a, dan entah!

Sang Tsunami telah menjadi tamu, selanjutnya orang banyak menciptakan beragam pertanyaan. Dari simple question kok bisa?, sampai benarkah ia bertandang atas kemauan sendiri? Tak hayal, Tuhan yang maha kuasa menjadi "tersangka" (keberadaanNya kembali diamati dengan prasangka-prasangka). Paling tidak Chossy Pratama segera menggubah lagu, Sherina dengan sempurna bisa menyayikannya, tentang Tuhan yang marah dan murka. Jutaan umat menyimak, juga bertanya-tanya. Ada Tuhan pasca Tsunami dan rumusan teologi bencana alam yang kabarnya tak rikuh mengekspos "intervensi" Tuhan secara mengharukan. Sementara "Manusialah biang keladinya!," interupsi manusia yang lain.

Padahal siapapun akan lebih nyaman mengatakan kalau bencana alam Tsunami sebagai sebuah tragedi. Tsunami diadopsi dari bahasa Jepang, tsu yang berarti pelabuhan dan nami yang berarti ombak. Sedang kata tragedi barangkali sebuah pereduksian yang amat arif dan bersahaja dari pada istilah adzab, cobaan ataupun kutukan.

Maklum saja, kejadian spektakuler tersebut memang kabur siapa lakon dan yang mana saja actor antagonisnya. Mengambil lakon layaknya Kate akan sangat merepotkan. Selain kebanyakan survivor, juga ada saja dari mereka yang tak patut mendapatkan selamat atas keselamatannya. Sementara Tokoh seperti nabi Nuh, Hud atau Luth sudah jelas tidak bisa dimunculkan pada zaman president sekarang. Lagian dari ratusan ribu korban warga aceh, lebih dari delapan puluh ribu adalah anak-anak. Terlalu sembrono jika mereka di terjemahkan sebagai kaum pembangkang dan jahiliyah seperti masa Nuh! Justru, bukankah para korban adalah kaum yang telah kenyang merasakan rentetan menu kecemasan. Produk dari gerakan pembangkangan untuk ambisi kemerdekaan, melawan "kejahiliyahan" dari pihak yang mengatasnamakan persatuan dan kesatuan.

Maka untuk sebuah lakon, Sang Tsunami semoga tepat. Di perankan oleh komunitas sesepuh kosmos. Eksis sejak jauh sebelum, sampai cucu terakhir Nabi Adam. Datang menggugah kholifahnya. Kalau alam semesta juga menerima wahyu, bisa di tafsirkan! Alam perlu sambutan hangat dan ramah, yang membaca dan menjaganya termasuk ibadah. Kebanyakan umat menyambut setengah hati. Lebih gemar memuja, mengexploitasi, atau memilih puas dengan legenda tangkuban perahu, petir dan cambuk Tuhan, geluduk dan bola bowling, pelangi dan selendang bidadari. (Soda)

No comments: