
Sampai di dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat dan bernegara.
Salah satu sikap irasional itu tampak jelas, yaitu pada gejala masyarakat yang gemar mengidap rasa ketergantungan secara berlebihan pada hal-hal diluar hitungan rasio dan pertimbangan nalar. Mereka lari dari dunia nyata ke dunia supranatural untuk mendapatkan jawaban. Puncaknya sempat terjadi pada masyarakat, yang ramai-ramai memasok ke dalam ruang hayalan dan harapan mereka, tentang kedatangan super hero, jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkan bumi dari segala problematika peliknya; semisal Ratu adil, Satrio Paninggit atau Imam al-Mahdi al-Muntadzar. Akhirnya disitu realitas tidak lebih hanya menjadi Halte, tempat orang-orang berkumpul berjejal harap dan ratap, sama-sama menunggu, sama-sama diam.
Sementara itu, ada juga laku irasional lain yang malah tidak suka diam. Justru dari kaum yang menganggap dirinya paling rasional dan kalem. Tetapi, dengan nalar bahkan kemarahan yang sebelumnya harus disakralkan terlebih dahulu. Seruan yang menggaung dari
Padahal Amr ma’ruf bukan hanya sebatas mengintruksikan pada sebuah kebajikan, tanpa terlebih dahulu mengajari seperti apa definisi, dasar, bentuk -praktek- kebajikan itu. Al-Ma’ruf berarti sesuatu yang telah maklum dan mafhum. Satu contoh : Solat tidak dianggap sebagai dakwah Amr ma’ruf jika diperintahkan, dibebankan pada orang yang belum tahu apa itu solat dan bagaimana solat harus ditegakan. Adapun sisanya, masih terlalu banyak kebajikan yang perlu diintruksikan secara arif; seperti anti perjudian, madat, pornografi, serta tentang pembahasan tokoh kita kali ini; ialah Imam al-Mahdi al-Muntadzar ra.
Imam al-Mahdi, awalnya bisa kita tekankan bahwa memilih sang tokoh al-Mahdi jangan dibayangkan seperti hendak memilih wakil rakyat ataupun presiden, yang bisa terjadi dengan ideologi rakitan, kemudian naik ke sebuah koalisi kepentingan, lalu perlu membuat bendera dan umbul-umbul, karnaval, dengan raungan motor, sampai intimidasi, manipulasi, berikut chaos yang semarak. Karena sejatinya sosok al-Mahdi al-Muntadzar adalah sang penyambung tongkat kekhalifahan, yang dalam pemilihanya memang bukan tugas kita untuk melakukan voting. Namun secara penuh menjadi hak preogratif Tuhan.
Coba bersama kita mengingat sejarah, tentang pengangkatan Khalifah pertama di pungung bumi, Saidina Adam as. Yang menitahkan tiada lain adalah Tuhan sendiri, dengan itu Saidina Adam-pun bahkan menjadi poros, kiblat para malaikat. Walaupun, kemudian ia menjadi tidak lazim untuk melangsungkan hidup, sampai ujung paling akhir peradaban jagad raya. Karena makhluk yang tercipta dari al-Thin (tanah liat) itu memang perlu memahami kodrat identitasnya sebagai manusia.
Namun ia juga seorang Nabi, yang berarti ada ruh kekhalifahan yang tidak akan pernah ikut terkubur oleh ruang dan waktu, La zaman wala makan. Ruh itu dipindahkan dari satu manusia ke manusia berikutnya, yang terpilih dan yang telah tersucikan. Al-Qur’an punya rekaman yang jelas tentang siapa di antara orang-orang suci itu. Semisal Saidina Nuh, Saidina Ibrahim, Saidina Musa dan Saidina Isa Alaihimussalam, merekalah para Rasul dan Nabi yang pernah diutus ke bumi untuk menjadi penterjemah ahli dari bahasa Tuhan kepada bahasa manusia, tentang bahasa cinta, bahasa welas asih, bahasa kebenaran dan keadilan yang sebenarnya. Dan mereka para Rasul tahu sekali siapa pemimpin atau imam atas predikat kenabian dan kerasulan mereka. Ialah baginda Muhammad saw. Imamul-Anbiya’ wal-Mursalin.
Manusia pilihan berbeda dengan manusia biasa, jelas saja. Karena dalam dunia kasat ataupun tidak telah dicipta unggunan derajat di
Hanya keimanan, penglihatan mata hati orang-orang mukmin saja yang mampu merasakan dan meyakini keagungan singgasana Rasulullah. “Singgasana Annabi al-Ummi itu berada pada daerah Nuqtah Muhayidah (neutral point)” tutur salah seorang sufi. Lanjutnya, Rasulullah adalah asal muasal rantai kekhalifahan, baik yang hidup pada periode sebelum atau sesudah kerasulan. Kesemuanya bertemu dalam satu pangkat; al-Warits al-Muhammadi. Bedanya, kekhalifahan pra-Rasulullah layak bergelar Nabi dan Rasul, sedang para pewaris Nabi yang hidup pasca-Rasulullah lebih santun untuk dikategorikan sebagai khalifah saja, semisal Khulafa’ Rasyidin, Wali ataupun Wali Murysid.
Kejernihan aqidah menjadi asasi di sini, khususnya ketika akan menaruh keyakinan tentang figur Imam al-Mahdi al-Muntadzar dalam ruang keimanan yang paling aman. Tidak keluar menerabas batas-batas syari’at Islam atau malah ikut andil besar dalam pengurasan, penguapan dan pengeringan spiritualisme agama, yang menjadi spirit bagi kokohnya bangunan islam itu sendiri.
Sebab nampak, ada aqidah yang tak beres dan menjadi sangat berbahaya. Ketika ada Imam al-Mahdi yang difungsikan sebagai pihak oposisi bagi fungsi kenabian dan risalah Islam. Terlebih, Imam al-Mahdi itu ditokohkan sebagai rasul pembanding, dengan kesadaran para pendakwanya, bahwa kedudukanya telah melengserkan singgasana Saidina Muhammad saw. Padahal selamanya pintu Islam tidak akan pernah terbuka secara otomatis, kecuali hanya melalui mantra "Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Saidana Muhammadan Rasulullah", saya bersaksi, bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwasanya Saidina Muhammad Utusan Allah. Kurang sepenggal saja, semisal tanpa menyebut nama Saidina Muhammad sebagai Rasulullah, gerbang agama Islam tetap saja akan rapat terkatup. Lalu bagaimana, jika kode itu malah kita rancau dengan ucapan dan keyakinan yang sembrono? Maka, tidak hanya kita menjadi yang terlantar diluar Islam. Bisa jadi, pintu murkalah yang akan segera terbuka.
Selanjutnya, terdapat kecerobohan lain yang lahir dari kedangkalan aqidah. Yaitu, mereka yang menafikan atau bahkan menolak secara mutlak kehadiran Imam al-Mahdi ra. entah sebagai simbol maupun tokoh yang hidup. Efeknya bisa jadi parah, paling tidak semboyan "Di atas langit masih ada langit" akan dilipat. Para Auliya’ kekasih Allah yang hatinya adalah arsy, tempat tersimpannya lukisan hakikat kehidupan yang paling jernih akan dihiraukan. Pemilik paham ini ada yang cenderung sepakat untuk memilih berjalan (berjalan-jalan) sendiri-sendiri, terserah.
Coba saja mereka tahu, mampu atau mau berguru, bahwasanya ada yang bisa membunuh kekufuran, meredam yang dzalim, atau mengendalikan syahwat dalam diri manusia, dari hati, sebagai segumpal organ tubuh yang jika ia baik maka akan merawat semua indra, dengan tanpa memotong leher, tanpa ayunan pentung dan rakitan bom, juga yang tanpa perlu mencetak seragam wajah baru bagi perempuan.
Agaknya memang terlalu sulit dan rumit, tapi justru itulah kenapa Allah swt. mengutus para manusia pilihan kekasih-Nya ke bumi. Allah-lah yang memilih dan mengutus khalifah, imam penunjuk (al-Hadi) itu pada setiap kaum tertentu, "Likulli qaumin had". Setuju saja, jika Islam dan umat Islam memang perlu diasuh oleh seorang khalifah. Tapi salahnya, sering kali kita keliru dalam memahami siapa sejatinya khalifah. Ia yang semestinya dengan kesabaran dan kerendahan hati harus kita cari, ternyata oleh sebagian kelompok dengan tergesa-gesa dan ambisi yang muqaddas, khalifah harus dibentuk semendesak mungkin. Butuh manajemen kepentingan, iklan moral, konspirasi politik islami dan masih banyak lagi.
Imam Al-Mahdi, khalifah pewaris Nabi
Sebagai jawabnya, Imam al-Mahdi al-Muntadzar mesti diyakini sebagai bagian dari khalifah pewaris nabi. Imam al-Mahdi ra. terlahir sebagai manusia pilihan Allah, di bawah panji Saidina Rasulullah saw. pada jalur Shiratal-Mustaqim, bertugas untuk menjernihkan kembali pemahaman Islam. Lalu siapa dia? Tidak sedikit jama’ah yang telah menjawabnya dengan menggemakan sebuah nama salah satu tokoh. Dari situ bisa ada yang terseret, dari situ pula bisa muncul ledakan amarah, seperti pekik takfir, tahkim pemurtadan, juga kutukan yang meletus-letus. Entah murni karena ketidaktahuan, atau tingkat makrifatnya yang memang belum mencukupi.
Terserah, Hemat penulis, al-Mahdi tetap al-Mahdi. Ia tidak akan pernah menjadi al-Mahdi yang kualitasnya tergantung pada jumlah dan antusias pendukungnya. Maka, yang paling krusial bagi kita adalah mengetahui benar karateristik tokoh kita juga materi ajaran yang disabdakan. Agar tidak gampang terseret pada sosok al-Mahdi dakwaan atau terhijab dari diri al-Mahdi sesungguhnya pada hari kemudian.
Imam al-Mahdi al-Muntadzar, seperti Saidina Ibrahim. Secara harfiyah ia bisa digunakan sebagai nama seseorang, yang menjadi petanda, batas pembeda dari objek (al-Musamma) yang lain. Di sini akan berlaku kaidah "Laisa kullu musa Musa", jadinya tidak semua nama al-Mahdi itu ya al-Mahdi. Dalam kondisi yang lain penamaan itu menjadi semacam predikat. Semisal Ibrahim yang menjadi kunyah al-Imamah, maka sebutan Imam al-Mahdi al-Muntadzar-pun menjadi simbol, tentang sosok sang pemberi petunjuk yang dirindukan kehadirannya. Makna yang kedua ini memang lebih banyak penganutnya, namun cakupan maknanya menjadi terasa terlalu luas untuk segera disinggahi seorang tokoh saat ini, barang kali saat dunia memang belum dikehendaki penghuninya (manusia) untuk kiamat sebentar lagi.
Mengingat banyak riwayat telah mencatat, pengutusan Imam al-Mahdi ra. telah menjadi salah satu tanda dari sekian tanda datangnya hari kiamat. Pada usia keempat puluh, di Baitil-Haram, beliau akan mengingatkan ajaran-ajaran agama islam yang telah terlupakan, menyegarkan kembali praktek sunnah Nabi, menghidupkannya yang telah mati. Hal ini memepertegas, bahwasanya al-Mahdi al-Muntadzar sesungguhnya bukanlah nabi baru yang akan menyebarkan syari’at agama yang berbeda. Namun ia yang akan berseru, menitahkan apa yang telah diperintah Allah dan Rasul-Nya, serta melarang segala sesuatu yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena agama Islam telah jauh-jauh mendapat restu Ilahi dalam kesempurnaannya, "Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu, dan kucukupkan bagimu nikmat-Ku, dan Aku rela islam sebagai agamamu" kepada Rasulullah, Allah swt. telah berfirman.
Sehingga, bukan menjadi petanda yang perlu bagi Imam al-Mahdi, Ia yang datang melesat dengan kelebatan jubah putih atau duduk di atas permadani sakti. Atau yang mampu berjalan lenggang kangkung di atas air, yang mampu menghilang, yang kebal peluru dan parang, unjuk demonstrasi kesaktian. Seluruh keanehan tersebut tidak akan bisa sedikitpun menambah kemuliaan agama Islam, terlalu lemah untuk menjamin terpeliharanya keimanan. Kita tahu David Copperfield, pesulap kelas kakap asal Amerika itu di tengah abad modern sekarang telah mampu memperlihatkan kedahsyatan itu semua. Terbang, menyelinap tembok cina, bisa menghilang atau menghilangkan, juga anti gergaji. Hebat, seperti mukjizat, yang menyaksikan berdecak, kagum, seketika terdengar aplaus yang bergemuruh dari seluruh pengunjung, yang menjadi penonton. Karena keajaiban David bersama panggung megahnya itu masih mutlak sebagai barang tontonan, sangat tidak mudah untuk dijadikan sebuah tuntunan. Entah bersama sekawanan jin atau sekedar trik magic.
Karena belum lagi Dajjal, sungguh makhluk inipun memiliki kesaktian mandra guna yang paling sempurna..!
Maka setiap kedahsyatan karamah yang timbul dari para wali atau para petapa suci, ukuran benar-melencengnya dikembalikan pada ajaran al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.. Sebab itu, tidak semua orang yang bisa mengeluarkan jarum, silet, paku, pisau dari perut korban tenung akan mumpuni untuk mengeluarkan madu, beristinbath menggali keindahan makna yang tersimpan dalam rahim teks suci al-Qur’an dan Hadits Nabi. Lain dukun, lain kiyai.
Setiap muslim sejati tahu, bahwasanya tidak ada yang lebih nikmat dari rizki apapun, dibandingkan anugrah pemahaman Tauhid serta Aqidah yang benar. Di sinilah keistimewaan tugas Imam al-Mahdi nanti, yang akan menyuguhkan konsepsi teologi itu secara indah. Hal ini menjadi salah satu ciri-wanci utama pada seorang al-Mahdi, yang padanya juga terbentang bahtera ilmu hikmah, suhu segala ilmu dunia dan akhirat.
Mengutus hati sebagai al-Mahdi
"Man mata faqad qamat qiyamatuhu", ternyata hidup cuma menunda kiamatnya masing-masing. Kapan kiamat itu akan dilangsungkan? Sebuah pertanyaan yang sama majhulnya dengan kapan datangnya imam al-Mahdi? Bedanya, kiamat yang berarti kematian itu cepat atau lambat yang akan mencegat, menangkap kita. Sedang kehadiran figur al-Mahdi al-Muntadzar, tidak semua dari kita akan bisa mengenali, menjumpainya di dalam batas pencarian dan ruang hidup yang tersedia.
Tapi tidak sepenuhnya begitu, karena ternyata ada al-Mahdi yang bisa terutus sebelum tempo kiamat itu dijatuhkan pada masing-masing dari kita. al-Mahdi ini yang bisa dirasakan kehadiranya oleh jiwa seorang muslim kapanpun dan dimanapun. Tiada lain, al-Mahdi yang dimaksud adalah hati nurani setiap hamba, yang hidup dan terang bercahayakan keimanan kepada Allah. Karena Allah telah berfirman "Wa man yu’min billahi yahdi qalbah", siapa beriman kepada Allah, hatinya akan mendapat petunjuk. Dengan beriman kepada Allah, berarti seseorang telah memulai mengutus hati sebagai al-Mahdi bagi dirinya.
Namun proses pengaktifan hati menjadi al-Mahdi sesungguhnya, yang kemudian sanggup bekerja secara otomatis dalam mengontrol setiap perilaku hamba tidaklah sederhana. Tidak cukup hanya dengan meyakini adanya Allah, lalu menyelesaikan solat, ikutan puasa, bayar zakat dan bepergian haji saja. Karena, penting sekali ada pensucian hati dari lapisan nafsu yang telah mengerak, seperti nafsu Ammarah bissu’, nafsu Lawwamah, nafsu Mulhamah, sampai benar-benar hati dalam kondisi steril dari nafsu yang meredupkan, lalu hati benar-benar siap menerima pancaran nur Ilahi dengan sempurna. Dengan melatih dari zikir lisan (zikr ghaflah) menuju zikir qalbu (zikr katsrah), hati dengan sendirinya mampu berdetak berzikir dalam keadaan terjaga maupun tertidur. Tentu, di sini diperlukan kesungguhan niat, kesabaran dan perjuangan ruhaniah melalui bimbingan dari seorang guru, ulama’, kiyai maupun wali mursyid.
Sesuai dengan firman Allah dalam
Demikian indahnya jika setiap dari kita sedari dini mampu mengutus hati menjadi al-Mahdi itu, nurani yang telah tercerahkan, hati yang segar dan hidup, yang menunjukkan jalan yang benar, menjaga dari etika tercela, penggairah ibadah, penambah rasa manisnya iman. Terciptalah kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Sehingga, Tidak ada yang perlu disesalkan jika sosok al-Mahdi al-Muntadzar tidak sempat hadir di dalam fase hidup kita. Sebaliknya, jika pada suatu ketika al-Mahdi al-Muntadzar itu memang benar-benar nyata menyapa, saat itu kita telah siap untuk bersamanya..! (Soda)


No comments:
Post a Comment