
“ Irhamu man fi al-Ardhi, yarhamukum man fi al-Sama' ”
”Asihi yang di bumi, maka" yang di langit" akan mengasihimu”.
Titah Bapak Toleransi, Sidi Mohammad Saw.
”Asihi yang di bumi, maka" yang di langit" akan mengasihimu”.
Titah Bapak Toleransi, Sidi Mohammad Saw.
Ada tokoh yang kemudian bisa benar-benar trenyuh, mengaduh pada Tuhan tentang nasib si Baghlah, hanya karena seekor anak kuda betina kecil itu terkilir, terperosok ke dalam sebuah parit. Padahal semula, dahulu, ia seorang bapak yang keras hati, mungkin bengis dan susah untuk menangis. Coba bayangkan, demi tradisi kaumnya ia rela ikut menggali sebuah lubang, lalu ke dalam ceruk itu ia lempar hidup-hidup, ia kubur sesuatu yang dianggap sebagai simbol nasib sial; putri gadisnya sendiri. Absurd! Begitulah saat ia menjalani masa-masa kehidupan jahiliyahnya yang dahsyat, sebelum akhirnya ia berubah menjadi orang ‘alim yang tidak biasa. Gagah berani, cerdas, arif , bijaksana dan toleran; Sayidina Umar bin Khottob rodhiallahu 'anhu.
Keimanan memang selalu memiliki ruang putar yang paling sensitif dan privatif. Selamanya tidak bisa dibuka dengan asal congkel, atau gampang diseret laiknya kambing congek. Keimanan tersimpan hidup dalam hati, untuk menyapanya butuh kesabaran dan rahmat dari yang ahli. Bagi sesiapa yang cuma merasa mampu, dengan malas dan terburu-buru, ia biasanya hanya gemar untuk kalang kabut; memilih mengenyahkan saja tempat keimanan itu. Lalu ada leher teriris, ledakan dan tubuh yang gosong. " O Tuhan, si bejat, si kafir, si musyrik itu telah mampus!", berujar dengan mantap.
Padahal. Andai Islam dan Rosulnya harus ada di bumi hanya untuk membasmi orang-orang kafir, barangkali Umar bin Khottob sang pembunuh itu tidak pernah bermimpi untuk menjadi Sang Pioner Islam yang berjejuluk al-Faruq, yang mampu menjadi perantara kewibawaan dan kemuliaan Islam. Jika Islam cuma begitu, Allah tidak perlu mengilhamkan kalam-Nya yang indah penuh I'jaz, dunia tidak perlu para rosul sebagai rahmat, tidak perlu orang-orang mukmin dan para auliya' yang memiliki ketajaman mata batin (bashiroh). Akan tetapi, Islam barangkali cukup menurunkan buku panduan untuk membentuk jasmani ummat yang sehat dan kuat: agar mereka bisa berenang, memanah dengan tepat, pandai mengatur stretegi, kuat memanggul artileri berat, mampu merakit dan meledakan bom!
Tenang, itu semua hanya sebuah pengandaian. Karena kita semua yakin, Rahmat itu Rosulullah, "Dan tidak aku utus engkau, kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam" demikian bunyi rekomendasi Allah untuk kanjeng Rosul. Rahmat ijad, adalah rahmat yang ada pada rosulullah itu. Sedang bumi, sepanjang sejarah juga tidak akan pernah sepi dari rahmat imdad (madad dari Rosul), yaitu rahmat milik para khulafa' al-rosyidin al-qobliyin (segenap nabi yang hidup sebelum Rosul) dan al-ba'diyin ( para waliyullah pewarist pasca rosul). Sehingga menjadi makin yakin, sejatinya misi suci agama Islam adalah guna "membereskan" ke-kafir-an yang bercokol pada individu setiap manusia, bukan seremeh menghabisi tubuh si kafir. Merangkul ke jalan Allah dengan menyuguhkan pola interaksi yang terbaik (wajadilhum billati hia ahsan), secara santun dan penuh kasih sayang. Tidak dengan sistem "kerja paksa", atau lewat pagelaran intimidasi yang mencekam.
Sebab, Islam sendiri dibangun dengan lima pondasi yang demikian toleran; seperti membaca dua syahadat, mengerjakan sholat, berpuasa, menunaikan zakat dan pergi haji ke baitullah. Disitu terdapat intensitas kesulitan yang berjenjang, dari yang termudah sampai kewajiban yang dirasa lebih payah. Dan rukun yang paling berharga justru kita temukan dalam ritual asasi yang paling mudah; mengucapkan dua kalimat syahadat. Bisa kita bayangkan, kalau syarat awal masuk Islam harus memakai upacara semacam sholat ataupun ibadah wajib lain yang lebih kompleks? Tentu makin merepotkan. Selanjutnya, setiap kewajibanpun selalu mensaratkan dua hal; pengetahuan (al-‘ilmu) dan kemampuan (al-Istitho’ah). Gugur salah satu saja, gugurlah kewajiban.
Dan Rosulullah, dengan apik berhasil mengajar dan meneladankan sikap ramah. Suatu saat, ada seseorang yang bukan muslim datang kepada Rosulullah hendak menagih hutang. Sambil memegang kerah Rosul ia membentak "Mana hak saya hai Muhamad”. “nanti kalau ada kelapangan rejeki” jawab Rosul. “kau kaum bani muthaollib, memang kaum yang suka menunda-nunda hutang” timpalnya lagi. Menyaksikan kejadian ini, sahabat Umar yang kebetulan bersama Rosulullah sempat naik pitam. Saat beliau hendak menghajarnya, rosulullah segera mencegah seraya berkata “wahai ‘Umar, dia dan saya lebih baik dari kamu tanpa yang seperti ini”.
Pembelajaran semacam itu, yang mampu merubah perangai sahabat Umar menjadi lebih bijak dan toleran. Pernah ketika beliau memasuki Bait el-Maqdis, kaum kristiani meminta beliau untuk menyempatkan sholat di dalam gereja mereka. Secara bijak Umar berkata “Sebenarnya tidak ada masalah bagi saya untuk melakukan sholat di tempat itu, cuman yang dikhawatirkan jika ummat Islam setelahku akan mengatakan “Disini lho, dahulu sahabat umar pernah melakukan Sholat” kemudian mereka akan mennyerobot sebagian tempat kamu sekalian”.
Nilai rahmat serta kasih sayang terhadap mahluk hidup terang saja tercermin dalam syari’at Islam. Sewaktu pelaksanaan ibadah haji yang sakral, para jamaah dilarang berburu ataupun sekedar menggilas seekor serangga dengan sengaja. Juga dalam etika penyembelihan hewan, disyaratkan memakai mata belati yang tajam. Sampai masalah upah buruh, bersabda Rosul “berilah upah buruh sebelum kering peluhnya”. Demikian nabi mengajari kasih sayang, toleransi, dan bagaimana menghargai hak-hak orang lain.
Akan tetapi kenapa masih ada yang kelewat ekstrim di kalangan umat Islam? Betul, bahkan tidak hanya radikalisme saja, di dalam Islam juga terorganisir sekumpulan koruptor, copet pasar, kyai cabul dan lain sebagainya. Yang perlu dipahami adalah bahwa; segala ritual yang galak dan polah kekejian yang terdapat dalam Islam bukanlah dari ajaran Islam. Hal ini, sebagaimana yang telah jauh-jauh disinyalir oleh nabi. Pas Beliau mendapati salah seorang muslim melakukan kecurangan di pasar ia bersabda "Man ghossana laisa minna", tidak berkata ""man ghossana laisa fina". Yakni, penipuan bukan dari ajaran Islam (laisa minna), tetapi tidak dipungkiri ia telah menjadi realita dalam Islam.
Tetapi yang pasti, tersemat dalam al-Quran bahwasanya Allah telah memuliakan seluruh bani adam, "walaqod karromna bani adam..". Dan rosul telah bertitah, ”Asihi yang di bumi, maka" yang di langit" akan mengasihimu”. Ketika sudah begini, siapa yang berani menanggung ke absahannya jika setiap kemarahan, setiap yang sadis di atas bumi adalah representasi murni kehendak Tuhan. Andai saja itu meleset, maka lebih dari mencipta sebuah persekutuan atas Tuhan, karena berarti Ia Yang Maha Suci telah dikambing hitamkan! Duh, sesekali kita memang harus menatap langit, bercermin diri dengan seksama, barangkali ada sesuatu yang menempel dalam benak kita; keyakinan yang sangar dan sekelebat bayang-bayang horor di dada. (Soda)





No comments:
Post a Comment